Elsa - Disney's Frozen

Rabu, 29 Maret 2017

Dandelion "Chelsea"


“Al…. Al….. Al bangun, udah pagi ini kamu gak sekolah nak?” Tanya mama dengan teriakannya yang dengan sukses langsung membangunkanku.
“Iya ma, Al bangun nih ma, santai aja kali ma. Gak usah teriak-teriak” jawab ku santai sambil berjalan menuju kamar mandi
“Gimana mama gak teriak, orang kamunya susah banget dibangunin. Kamu ngapain aja sih nak dikamar? Sampai gak denger mama dari tadi manggil” Tanya mama lagi
“Yaelah mama kayak gatau apa yang Al lakuin dikamar. Kayak biasalah ma, pacaran sama guling. Ganggu orang pacaran aja mama ini” Jawab ku becanda
“Wah.. anak ku sekarang mulai kurang waras yah karena kelamaan men jomblo.”
“Emang Al boleh pacaran ma?” Tanya ku sambil menutup pintu kamar mandi
“Gak.. Gak boleh.. Masih kecil kamu nak.. Jangan pacaran dulu, belajar dulu yang bagus, kerja dapet duit sendiri baru pacaran. Anak bocah yang masih minta uang jajan sama mama aja sok-sok an mau pacaran.” Kata mama panjang lebar
“Ye, gak kasian apa sama anak nya yang sedikit gak waras ini ma? Kasian Al ma, kesepian, merindukan kasih sayang ma” jawab ku sedikit lebay dari dalam kamar mandi
“ihh.. mama geli tau denger nya. Pake baju sendiri aja gak becus malah bicarain merindukan kasih sayang segala. Emang judul lagu dangdut apa? Ahh kamu ini Al, mandi aja gausa bicara mulu”
“Tapi ma…” kata ku terpotong oleh suara mama yang memerintah
“Cepat mandi, udah jam berapa ini. Kamu mau sarapan gak? Buruan mandi gih”

Setelah selesai mandi dan berseragam sekolah yang rapi aku berjalan ke meja makan. Aku hanyalah seorang siswa SMA kelas 2 IPA yang tidak terlalu rajin namun juga tidak nakal. Alan Basir Cholin begitu nama lengkap ku tertulis di akta kelahiran ku. Sebagai seorang pelajar yang sudah duduk di bangku SMA, aku masih tidak tau cita-cita dan jurusan yang akan aku tuju untuk kuliah. Mungkin kedengaran aneh, tapi dahulu aku pernah memimpikan menjadi seorang dokter. Dokter terlihat sangat berjasa dan aku sangat ingin menjadi dokter relawan untuk korban perang. Tapi sekarang keinginan itu sedikit berkurang, gak ada minat lagi. Fikiran anak SMA seperti ku sekarang hanyalah lulus sekolah lalu mendapat kerja yang menghasilkan uang saja sudah cukup. Karena sekarang aku tak terlalu minat kuliah, setelah kepergian ayah ku 2 tahun lalu keuangan kami sangat menipis, makan sehari-hari dan bayar uang sekolah saja sudah sangat bagus untuk kami. Penghasilan kami hanya terpaku dari berapa banyaknya panen sawit yang kami dapatkan setiap 2 minggu sekali. Untung aku anak tunggal jadi tidak terlalu membebani, tapi ibu ku yang terlihat sangat kesepian.

“Al.. habisin nasi dan lauk mu nak.. kok malah melamun sih. Apa yang kamu fikirkan?” Tanya mama
Kulihat raut wajah khawatirnya melihat ku. Aku tidak tega membuatnya khawatir. Aku harus membuatnya tersenyum atau apapun itu agar dia tidak menampilkan raut wajah seperti itu lagi.
“Ahh.. mama ini selalu saja mengganggu ku. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya agar aku sanggup meninggalkan guling yang sangat kucintai sendirian saat aku harus pergi kesekolah ma” jawab ku lebay agar mama tersenyum
“ihh.. anak mama beneran deh. Kamu mau ke rumah sakit jiwa gak nak? Mungkin kamu mengidap delusi akut nak.” Jawab mama sambil tersenyum
“Yakali ma” kata ku
Aku dan mama tertawa senang. Aku sangat bahagia melihat mama ku tersenyum seperti itu. Dan aku menghabiskan sarapan ku. Lalu bergegas mengambil tas dan pergi kesekolah.
“Al pergi dulu yah ma. Assalamualaikum” pamit ku sambil mencium punggung tangan mama
“Hati-hati yah nak” jawab mama sambil mengelus rambut ku.

Aku pun berangkat ke sekolah. Sesampainya disana aku merasa heran, mengapa pagar sekolah hanya terbuka separuh dan keadaan sepi tidak seramai biasanya. Aku pu berlari menuju pos satpam dan bertanya  kepada seorang orang satpam yang sedang duduk sambil minum segelas kopi.
“Permisi pak, kok sekolah nya sepi? Ini kan masih belum waktu bel sekolah” Tanya ku pada satpam yang terlihat tua
“apa nak? Bapak gak denger, suara kamu kecil banget. Ulangi lagi nak, besarin suara mu” kata bapak satpam itu
Dan aku pun mengulangi pertanyaan yang sama dengan suara yang ku besarin “Pak, kok sekolah nya sepi? Murid-murid yang lain pada kemana pak?”
“Bapak gak denger nak. Kamu kok suaranya kecil banget kayak suara semut sih nak. Badannya aja yang besar tapi suaranya kecil. Gak jiwa muda banget” jawab bapak itu lagi dengan wajah mengejek
Aku sudah mulai kesal namun aku bersabar karena bapak itu sudah tua dan aku mengulang kembali pertanyaan ku dengan suara yang lebih besar lagi “Pak, kok murid-murid yang lain gak kelihatan? Pada kemana mereka pak?”
“Dek, adek ada perlu apa? Kok datang kesekolah?” Tanya satpam muda yang baru sampai di pos satpam dengan tangan membawa kotak besar
“Saya lagi nanya bapak satpam yang itu kenapa sekolahnya sepi dan murid-muridnya pada kemana, tapi bapak satpam it uterus-menerus menyuruh saya mengulangi pertanyaan saya. Padahal saya sudah 3 kali bertanya dan dengan suara yang besar tapi bapak itu masih saja tidak mendengarnya. Saya datang ke sekolah yah mau sekolah lah pak” jawab ku kepada satmpam muda
“Owalah dek, bapak satpam itu pendengarannya sedikit bermasalah, jadi wajar saja kalo dia gak denger suara kamu” jawab bapak satpam muda dengan senyuman sambil menurunkan kotak besar yang dibawahnya ke lantai
“Ya ampun, saya gatau pak. Uhh.. sia-sia saya Tanya bapak itu” kata ku dengan wajah kesal
“hahaha.. kamu ini lucu banget dek. Sekolah nya kan libur kenapa pake tanya lagi sih sama satpam. Kamu gak liat kalo hari ini libur nasional?” kata satpam muda sambil tertawa
“Yaelah, mana saya tau pak. Saya kan murid teladan yah harus selalu sekolah lah pak. Hahaha… Uhh.. memang ny libur apaan sih nya hari ini pak?” kata ku sambil tertawa juga
“Libur hari raya nyepi dek. Ini kan tanggal 28 Maret. Coba aja lihat kalender hijau itu dek” kata pak satpam muda sambil menunjuk kalender berwarna hijau yang berada diatas meja kaca hitam.
Aku pun bergegas dan melihat nya. Ahh sialan, memang benar hari ini libur. Kenapa aku gak ingat hari ini libur sih. Biasanya aku selalu menjadi orang nomor satu yang tau libur. Mama juga kok gak ngasih tau sih.
“Iya pak, yaudah pak saya permisi dulu yah” pamit ku
“Iyah nak hati-hati yah nak.” Kata pak satpam sambil melambai

Sesampainya dirumah

Aku berjalan menyusuri pinggiran kota. Dan aku tiba di suatu kampong yang terlihat kumuh. Aku merasa sedikit jijik dengan hal itu. Tapi aku tetap melanjutkannya demi menemukan sang anak bernama Alysa itu.

Seperti bunga Dandelion yang